Chevy Ceritakan Inspirasi ‘Morning Coffee’, Awal Bermusik, Hingga Anime Kesukaan [USS Feed Interview]

Chevy Ceritakan Inspirasi 'Morning Coffee', Awal Bermusik, Hingga Anime Kesukaan [USS Feed Interview]
access_time 2 bulan yang lalu

Dua tahun belakangan jadi waktu yang produktif untuk musisi pendatang baru, Chevy, apalagi mengingat lagunya ‘Morning Coffee‘ yang ada di mana-mana.

Bukan cuma viral di TikTok karena lagunya itu, ternyata Chevy sudah merambah dunia YouTube sejak umur 14 tahun. Dengan lagunya yang ‘chill‘ dan ringan, rangkaian liriknya pun relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Gaya musik dengan ukulelenya yang khas tak membuatnya berlabuh cukup sampai di situ. Katanya, ada banyak hal yang mau ia coba dan eksperimenkan.

Baru-baru ini, USS Feed berkesempatan untuk ngobrol langsung dengan artis muda yang lagi kuliah di California itu.

Kan kamu kuliah jurusan komunikasi, project musik kamu itu berawal dari hobi ya? Gimana, sih awal mulanya?

Aku tuh selalu suka musik!

Awalnya sempet mau kuliah musik. Dulu aku pernah daftar ke sekolah musik, dan mereka minta portfolio di Soundcloud supaya gampang diakses. Dan aku kayak ‘Ya! aku denger musik-musik underground di Soundcloud’, makanya aku upload ‘sweet boi’.

Ku kira nggak ada orang yang mau denger. Tapi ternyata, orang-orang dari YouTube pakai lagu itu di video mereka, bahkan di-translate ke bahasa Spanyol. Aku pikir ‘WOW, ternyata orang bener-bener dengerin ini’. Jadi, ya ini keren!

sweet boi‘ ini kan lagu pertama kamu, gimana sih proses produksinya? apakah kamu bikin sendiri?

Iya aku bikin sendiri! dan ini pertama kalinya rekaman sendiri, lalu bikin beat-nya.

Untung aku pernah ambil kelas audio-tech di SMA. Itulah kenapa aku tau gimana cara pakai programnya, aku pakai GarageBand. Ini adalah eksperimen aku.

Pertama kalinya aku masukin ukulele, aku lihat caranya di YouTube, dan aku pakai di laguku. Jadi ‘sweet boi‘ itu lebih kayak lagu yang raw dan made in the moment.

Aku senang orang bisa enjoy.

Kamu kan pakai beberapa platforms untuk musik, gimana bedanya menurutmu?

Kalau Soundcloud lebih ke tempat berkumpulnya para musisi, di situlah aku ketemu orang-orang dan bikin komunitas. Sementara untuk TikTok, banyak orang yang suka bikin video anime pakai laguku. Oh, dan K-Pop juga!

Setiap platform tuh beda banget menurutku. Tapi, pendengar di YouTube itu punya tempat spesial di hatiku. Soalnya, mereka udah ada dari zaman aku pertama upload, sekitar umur 14 tahun. Lalu, pelan-pelan berkembang dari situ.

Aku berharap bisa lebih sering upload video.

Ngomong soal ‘morning coffee‘ momen apa sih yang bikin kamu mikir ‘Ah, mau bikin lagu tentang kopi!’

Penulisannya itu proses yang organik, sih. Aku nulis ‘morning coffee‘ sama temanku, Nalba yang juga nyanyi di lagu itu.

Karena kita jauh, dia di Inggris dan aku di California, jadi kita saling kirim-kiriman demo dan liriknya. Lalu kita kepikiran mau tema seperti teh atau kopi. Berusaha bangun di pagi hari, dan kopi jadi penyelamatnya.

Aku emang suka kopi, mulai hari pun minum kopi. Aku dan Nalba enjoy banget bikin lagu ‘morning coffee‘ karena relatable, mungkin bagi banyak orang juga gitu.

Apalagi, saat kami taroh suara burung berkicau di awal, dan ada suara alarm yang rasanya pingin kita matiin cepet-cepet. Intinya, pengalaman di ‘morning coffee‘ itu relatable banget.

Oke, beralih ke keseharian kamu nih. Anime apa sih yang kamu suka? Di samping Hunter X Hunter, ya!

Dulu waktu SMA aku suka banget nonton anime. Tapi sekarang aku lebih suka baca Manga atau Webtoon, karena lebih gampang aja.

Tapi soal anime series, aku baru-baru ini nonton ‘Jujutsu Kaisen‘, aku suka banget. Aku suka series yang penuh action, beda rasanya kalau kamu cuma baca dari Manga, dengan musik dan animasinya, keren banget.

Oh, ya! aku juga lagi nonton final season ‘Attack on Titan‘. Bagus banget story development-nya, apalagi plot twist-nya gokil.

Terus, what about video games?

Wah, aku banyak main video games!

Aku dan saudara laki-laki ku suka streaming bareng dan main di hari Rabu. Tapi untuk go-to game aku itu ‘League of Legends’, aku udah main ini dari umur 13 tahun. Aku coba ‘Valorant’ tapi terlalu pusing sama gerakannya, motion sickness.

Terus, aku juga main ‘Little Nightmares’. Aku benci horror, tapi aku suka banget main ini.

Back to music, kamu produktif banget dua tahun belakangan ini. Kira-kira, bakal ada project apa? Kamu mau coba genre-genre lain nggak sih?

Ya, semenjak quarantine, aku jadi lebih rajin upload ke YouTube, setiap beberapa minggu sekali.

Di rumah aja, banyak waktu, banyak ide juga. Aku pun mulai main TikTok. Pokoknya, aku bisa bereksperimen dan menyelami sisi kreatifku lebih dalam lagi.

Ngomongin project yang akan datang, 15 Oktober nanti bakal ada lagu baru, remake lagu kedua ku di Soundcloud ‘floating‘. Ini bakal jadi bagian dari EP yang mungkin rilis sebelum akhir tahun ini.

Dan tentu aja! aku mau coba explore genre lain. Di EP ku nanti, bakal ada gaya lamaku yang pakai ukulele, tapi akhir-akhir ini aku lagi merambah ke lagu-lagu yang jazzy.

Selain itu, aku juga mau bereksperimen di genre RnB. Ya, aku mau coba hal-hal baru di hidup.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu bisa bebas tanpa harus pikirin budget, dll., dream album kamu bakal kayak gimana?

Wah ada banyak banget pilihan! Tapi yang pertama muncul di kepala adalah MV-nya harus animasi. Soalnya, aku selalu punya gambaran visual yang kuat saat bikin lagu.

Aku juga mau collab sama orkestra dan bikin musik simfoni yang besar. Kalau itu kejadian, dream comes true banget!

So what’s your favorite track from Chevy? Mine is ‘morning coffee’!

Baca juga:

close

Chevy Ceritakan Inspirasi ‘Morning Coffee’, Awal Bermusik, Hingga Anime Kesukaan [USS Feed Interview]

Search
close