Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kota di Tiongkok Jadi Mak Comblang, Kumpulkan Rakyatnya yang Jomblo

Banyaknya orang jomblo seharusnya jadi hal yang wajar, tapi pemerintah kota di Tiongkok ini ikut turun tangan dan jadi ‘mak comblang’.

Luanzhou di Tiongkok utara (Provinsi Hebei) kini mulai mendata para penduduknya yang melajang. Alasannya, gara-gara permintaan para netizen jomblo.

Mereka minta pemerintah bikin aktivitas untuk para jomblo supaya bisa menjalin hubungan.

Pemerintah kota di Tiongkok kumpulkan para jomblo

Kota di Tiongkok Jadi Mak Comblang, Kumpulkan Rakyatnya yang Jomblo
via Giphy

Senin kemarin, pejabat Partai Komunis di Kota Luanzhou, Tiongkok utara mengumumkan kalau pihaknya sudah mulai mengumpulkan data pribadi para warga yang belum menikah.

Informasi itu kemudian mereka masukkan ke dalam database pusat. Ini merupakan inisiatif mereka untuk membantu rakyatnya agar segera melepas status lajang.

Pemuda-pemudi jomblo mengisi informasi personal — seperti nama, gender, usia, pekerjaan, status ekonomi, situasi keluarga, dll — untuk menyediakan data anak muda. Hal ini supaya kami bisa melayani mereka lebih baik dalam hal kencan dan pernikahan.” ujar Li Jianzhong

Selama pandemi, interaksi sosial semakin terbatas. Makanya, bagaikan mak comblang, pejabat lokal menggelar pesta perjodohan yang dihadiri PNS dan pegawai BUMN.

Tentunya, pesta itu lengkap dengan sesi blind date alias kencan buta.

‘Kota ramah anak muda’

Kota di Tiongkok Jadi Mak Comblang, Kumpulkan Rakyatnya yang Jomblo
via Giphy

Pesta kencan massal seperti ini sudah pernah mereka adakan dua kali tahun ini. Kini mereka juga sudah menjadwalkan pesta virtual Malam Tahun Baru di aplikasi Douyin.

Pemerintah kota di Tiongkok utara itu pun menyebut Luanzhou sebagai ‘kota ramah anak muda’, apalagi forum kencan ini merupakan hasil dari permintaan anggota masyarakat.

Kami berharap bisa mempertemukan laki-laki dan perempuan lewat serangkaian kegiatan.” tulis pernyataan yang pemerintah Luanzhou rilis di Weibo.

Gimana, ya kalau pemerintah di Indonesia bikin program semacam ini?

Baca juga: