Mimpi Buruk Jadi Koleksi Sebuah Museum, Buat Apa Ya?

Mimpi Buruk Jadi Koleksi Sebuah Museum, Buat Apa Ya?
access_time 10 bulan yang lalu

Dicari untuk diteliti, museum ini siap mendengarkan cerita para pengunjung

Mimpi buruk pastinya bukan sesuatu yang disukai oleh setiap orang. Karena biasa hal tersebut identik dengan kejadian tidak mengenakan yang terekam pada alam bawah sadar saat sedang tidur.

Tapi menariknya, belum lama ini ada sebuah museum di London yang justru ingin mendengar cerita dari mereka yang mengalami mimpi buruk selama pandemi. Kabarnya, Museum of London memerlukan cerita responden untuk di teliti

Merupakan bagian dari sebuah proyek penelitian

Meski terdengar aneh, nyatanya meng-koleksi mimpi tersebut menjadi bagian dari sebuah proyek penelitian bernama The Guardians of Sleep. Seperti dilansir Lonely Planet, Museum of London bekerja sama dengan Museum of Dreams di Western University, Kanada.

Mereka meminta warga London untuk berbagi mimpi yang dialami saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Proyek ini juga merupakan bagian dari inisiatif museum bertajuk Collecting Covid.

Selain jadi koleksi, kegiatan itu merupakan bagian dari sebuah penelitan // via britainExpress.com

Dimana tujuannya adalah untuk memberikan lebih banyak informasi tentang bagaimana alam bawah sadar kita menciptakan skenario mimpi, baik atau buruk pada saat kritis. Kemudian hasilnya akan digunakan untuk lebih memahami kesehatan mental seseorang.

Mengumpulkan mimpi warga London dengan kata-katanya sendiri tidak hanya memungkinkan kami mendokumentasikan pengalaman bersama dari pandemi, tetapi juga membantu memperluas definisi ‘objek museum’. Dengan menambahkan mimpi sebagai pertemuan mentah dan kesaksian pribadi ke koleksi London permanen kami untuk pertama kalinya,” tutur Foteini Arvani, kurator digital di Museum of London.

Covid-19 memberikan dampak fisik dan mental

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 sudah mengubah banyak hal. Para pakar menyebutkan bahwa situasi krisi semacam ini juga memunculkan sejumlah masalah fisik dan mental. Berdasar survei Kings College London yang dilakukan dari Juni 2020, kecemasan terhadap pandemi tidak berhenti menghantui, bahkan menggangu waktu tidur.

"Para

Para peneliti menemukan bahwa 5o persen orang dalam kelompok usia 16-24 tahu mengklaim kalau mereka jadi lebih sering mengalami vivid dreams. Sebuah kondisi ketika mimpi terasa terlalu nyata sampai membuat mereka kesulitan membedakan kenyataan dan dunia mimpi.

Hal itu terjadi karena secara tidak langsung keresahaan dan kekhawatiran dapat terproyeksi melalui mimmpi. Sebab, mimpi merupakan manifestasi paling otentik dari apa yang dirasakan di dunia nyata.

Mengkoleksi mimpi buruk akan berguna bagi ilmu pengetahuan

Untuk itu, Museum London ingin mengoleksi mimpi para responden dalam situasi saat ini. Karena menurut mereka hasilnya akan sangat menarik dan berguna bagi ilmu pengetahuan. “Kami akan mengumpulkan mimpi sebagai sejarah lisan orang pertama dengan tujuan untuk memberikan narasi yang lebih emosional dan pribadi saat ini untuk generasi mendatang,” lanjut Aravani.

Mueseum of London sendiri baru akan meluncurkan “Guardians of Sleep” pada Febuari 2021. Saat ini mereka sedang mencari peserta dan bagi yang tertarik bisa mengirimkan email paling lambang 15 Januari 2021.

Nantinya peserta terpilih akan mendiskusikan mimpi mereka dengan tim peneliti dari Museum of Dreams. Jika cukup relevan maka ada kemungkinan akan diarsipkan baik secara permanen atau tidak.

Source : The Guardian

Lah iya juga, gua pikir cuman gua yang jadi lebih sering ngimpi di masa pandemi. Ternyata begitu adanya!

close

Mimpi Buruk Jadi Koleksi Sebuah Museum, Buat Apa Ya?

Search
close