Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami salah satu pengalaman mengerikan dalam hidup: suffering in silence.

 

Sebagaimana yang diduga dialami Mandala, seorang anak berusia 16 tahun asal Samarinda, Kalimantan Timur. Sayangnya, penderitaan dalam bungkamnya itu justru yang membuatnya dijemput ajal akibat terpaksa memakai sepatu yang kekecilan untuk pergi ke sekolah. Setiap hari.

Kasus ini terjadi di tengah kencangnya kabar soal anggaran sepatu baru untuk Sekolah Rakyat sebesar Rp 27 miliar yang menimbulkan pusaran polemik di tengah masyarakat.

 

Pakai sepatu ukuran 40 untuk sepasang kaki berukuran 44-45

 

Mandala Rizky Syahputra, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang duduk di kelas 11, dipaksa keadaan harus menggunakan sepatunya yang hanya berukuran 40 (berdasarkan standar ukuran Eropa). Padahal, sang ibu Ratnasari (40) menuturkan jika ukuran kaki anaknya mencapai 45, per Kumparan.

 

Bagi beberapa orang mungkin sepasang sepatu bukanlah barang yang sulit untuk dibawa pulang. Namun sayangnya, tidak bagi Mandala.

Melangkah sambil menahan luka yang masih basah

 

Wanita 40 tahun tersebut menceritakan jika anaknya dipaksa keadaan untuk menggunakan sepatu yang kekecilan itu demi bersekolah dan bekerja tanpa bertelanjang kaki.

 

Kondisi perekonomian keluarga membuat Mandala terpaksa berjuang di tengah pedihnya hidup sambil menahan perihnya luka di kedua kakinya.

 

Mirisnya berdasarkan keterangan yang disampaikan Ratnasari, anak yang harus tumbuh tanpa sosok ayah itu harus menggunakan pembungkus buah (foamnet) berwarna pink untuk mengurangi rasa sakit akibat ukuran sepatu yang kelewat sempit, per Kompas.

Tuntutan pekerjaan yang semakin memperburuk kesehatan Mandala

 

Kondisi siswa kelas 11 SMK tersebut semakin melemah di tengah program internship (magang) yang diadakan sekolahnya.

 

Klimaksnya terjadi saat Mandala bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di Samarinda sebagai pramuniaga.

 

Kondisi ini menuntutnya untuk kuat bekerja dalam posisi berdiri berjam-jam sambil menahan sakit di kedua kakinya. Saat itu, sang ibu menjelaskan kulit di kaki Mandala mengelupas hingga menyebabkan luka infeksi yang parah.

Infeksi menjalar hingga alami komplikasi

 

Sebelum meninggal, sang ibu menceritakan jika keluhan-keluhan ringan anaknya semakin memburuk dalam kurun waktu tiga minggu. Kakinya mulai membengkak dan membuatnya semakin mengeluh kesakitan.

 

Setelah sebulan, rasa sakit yang ditimbulkan dari luka infeksinya semakin menyebar ke bagian pinggang hingga kepala.

 

Luka infeksinya semakin parah dan menyebar sehingga semakin melemahkan kesehatan Mandala.

 

Anak muda yang kehilangan nyawa karena sepatu yang kekecilan

 

Dalam keterangannya, Ratnasari mengatakan bahwa ia sempat membawa anaknya untuk berobat. Namun karena keterbatasan biaya, Mandala terbilang telat mendapat penanganan medis. Ia baru mendapat tindakan medis saat kondisinya sudah terlanjur kritis.

 

Dalam kesakitannya itu, ia tetap memaksakan diri untuk beraktivitas. Hingga pada Jumat, (24/4/2026) Mandala untuk pertama kalinya menyerah pada rasa sakitnya dan menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Mandala Rizky Syahputra, akhirnya meninggal dunia dalam tidurnya. Tanpa dapat merasakan sepatu baru.

Pesan pilu sebelum Mandala meninggal dalam tidurnya

 

“Dia bilang, ‘Bu, bisa tidak belikan Mandala sepatu?’ Saya bilang nanti dulu. Dia jawab, ‘Mandala lupa kalau Mandala anak yatim,’” ungkap Ratnasari dikutip Kompas.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur angkat bicara soal berita ini

 

Disdikbud Kaltim beri tanggapan mereka soal kasus ini. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, mengatakan baik dari pihak sekolah maupun pihaknya sudah berusaha untuk memberikan pendampingan secara maksimal.

 

Berdasarkan hasil pendalaman Disdikbud Kaltim, memang ada temuan bahwa kesehatan siswa tersebut menurun yang disertai keluhan berupa sakit kepala hingga pembengkakan pada kakinya.

 

Namun mereka tidak menemukan diagnosa medis dari pihak layanan kesehatan yang menguatkan indikasi meninggalnya Mandala akibat memakai sepatu kekecilan dalam intensitas yang tinggi.

Polemik anggaran sepatu baru Rp 27 M untuk Sekolah Rakyat

 

Di sisi lain, masyarakat tengah dihebohkan dengan polemik anggaran pengadaan sepatu baru untuk siswa program Sekolah Rakyat senilai Rp 27 miliar oleh Kementerian Sosial (Kemensos).

 

Publik langsung mengaitkannya dengan kasus kematian tragis Mandala. Masyarakat ramai-ramai menyoroti estimasi hitung-hitungan harga yang mencapai Rp 700 ribu per sepasang seaptu. Hal ini dinilai janggal.

Klarifikasi Mensos soal polemik anggaran miliaran buat sepatu baru

 

Namun kemudian, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menanggapi polemik soal anggaran sepatu baru senilai Rp 27 miliar ini. Ia mengklaim bahwa angka yang tersebar di tengah masyarakat itu masih dalam tahap wacana.

 

Rp 27 miliar yang diajukan Kemensos ini diklaim baru perencanaan awal yang belum final.

 

“Jadi gini, setiap anggaran itu kan direncanakan sebelumnya ya. Direncanakan dan nanti tentu ada proses pengadaan. Nah proses pengadaan ini dilelang secara terbuka dan nanti hasilnya pasti lebih murah dari perencanaannya,” jelas Saifullah dilansir CNN Indonesia.

 

Kontemplasi

Di negara yang tengah merancang anggaran miliaran untuk sepatu, ada anak yang “pergi” tanpa pernah mendapatkannya.

Bukan karena tidak adanya rasa kepedulian. Tapi hanya saja ia jarang datang tepat waktu.


Let uss know your thoughts!