Dugaan jaringan prostitusi anak dan pedofilia di kawasan Blok M
Blok M yang jadi destinasi favorit buat banyak kalangan mulai dari anak muda sampai orang tua, saat ini dikabarkan terseret dalam arus dugaan kasus kriminal yang serius.
Blok M disinyalir jadi sarang sindikat pedofilia warga negara asing (WNA) yang nargetin anak-anak di bawah umur.
Fakta yang lebih ngeganggu: kasus ini terkuak dan rame jadi bahan diskusi bukan dari laporan resmi, melainkan dari temuan pada thread (utas) di X (dulunya Twitter), yang viral.
Temuan awal
Dugaan ini muncul setelah sejumlah tweet di platform media sosial X yang bahas soal praktik prostitusi (PSK) anak di Indonesia.
Kasus ini pertama kali ter-blow up oleh akun yang diduga milik warga negara (WN) Jepang dengan username @hunter_tnok. Di posting-annya terlihat sejumlah screenshot (SS) dalam rentang waktu 2025-2026.
Dalam SS-an itu, akun-akun berbahasa Jepang terlihat sharing experience prostitusi anak usia 16-17 tahun yang dilengkapi gambar sang anak tampak belakang, lokasi, dan testimoni dalam bahasa Jepang.
Berawal dari utas di X
Salah satu SS-an nyeritain soal pengalaman pria Jepang yang udah beberapa kali ke Indonesia, pakai jasa prostitusi anak, dan didokumentasikan. Ia sempat digerebek pada 15 Agustus 2025, tapi yang janggal, polisi malah membebaskannya tanpa syarat, lalu ia dapat melenggang dengan aman kembali ke kampung halaman.
Bahkan, dalam SS-an terbaru dari @hunter_tnok dan user lain yang ikut nge-spill @thonglor_taro, ada pria Jepang yang nge-share dengan bangga nulis “Herpes lagi nyari tempat buat tampil nih”. Jalan-jalan ke Indonesia, “jajan” anak di bawah umur sekitar 15 tahun-an, dengan misi nyebarin penyakit herpes yang ia miliki.
Eskalasi
Terus setelah posting-an awal @hunter_tnok rame, sejumlah akun X (user Indonesia) mulai men-QRT thread yang berupa temuan itu ke audiens Indonesia yang lebih luas.
Dari QRT, gemuruh diskusi pun pecah, jadi trending topic, yang akhirnya sampailah ke telinga aparat. Sejak saat itu kasus ini mendapat perhatian khusus dari masyarakat.
Timeline kasus
Berawal dari cuitan ke tahap penyelidikan
- Sept-Nov 2025
Akun-akun diduga WN Jepang unggah cuitan eksploitasi anak di Jakarta di platform X.
- Awal Mei 2026
Akun @hunter_tnok memviralkan cuitan yang berisi tangkapan layar lewat thread yang ia buat ke khalayak internasional.
- 10 Mei 2026
Sejumlah akun X men-QRT dan nyebarin cuitan @hunter_tnok ke audiens Indonesia. Viral. Banyak netizen Indonesia yang bahas. Rame di media.
- 11 Mei 2026
Polda Metro Jaya secara resmi melakukan penyelidikan, ditangani Direktorat Reserse Siber dan Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang.
- 12 Mei 2026
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto bilang kasus ini jadi perhatian serius soalnya menyangkut kelompok rentan. Dan ia juga bilang kalo Polri terbuka buat laporan/aduan dari masyarakat.
Respons kepolisian
Dalam menanggapi berita viral ini, kepolisian menunjuk Direktorat Reserse Siber dan Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dirres PPA & PPO) Polda Metro Jaya untuk menangani kasus ini.
Lewat pernyataan resmi, Kombes Pol. Budi ngeklaim polisi ngga akan menoleransi segala bentuk eksploitasi terhadap anak. Apalagi kalau benar ada WNA yang sengaja pergi ke Indonesia buat mencari praktik prostitusi anak, katanya per inp.polri.go.id
Hingga saat berita ini di-publish, pihak kepolisian masih dalam tahap penyelidikan soal dugaan sindikat pedofilia WN Jepang di kawasan Blok M.
Data: Bukan cuma soal angka
28.831 kasus
Kekerasan terhadap anak tercatat di Indonesia sepanjang 2024.
5.266 aduan
Pelanggaran hak anak yang masuk ke Komnas PA sepanjang 2025. Naik 878 dari 4.388 aduan dari 2024.
360%
Kenaikan kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak perempuan yang dicatat Komnas PA di tahun 2025. Naik 360% dibanding 2022.
35.533 laporan
Kekerasan terhadap kelompok anak dan remaja perempuan Januari-Desember 2024 sebanyak 46,38%. Naik 2,4% dibanding 2023.
*SIMFONI-PPA KemenPPPA, Komnas Anak, Komnas Perempuan
Kalo kata mereka: Apa yang picu eksploitasi pada anak?
Kalo kata KPAI, pemicu utama eksploitasi anak ga jauh dari masalah ekonomi, buruknya pengasuhan, penyalahgunaan media dan teknologi informasi, hingga kekuatan sindikat kejahatan yang emang menyasar anak-anak.
Direktur PPA dan PPO Brigjen Pol. Nurul Azizah di 2025 bahkan bilang juga kalo kemiskinan, lemahnya pengawasan keluarga, dan akses teknologi tanpa edukasi jadi faktor pemicu eksploitasi seksual anak, per Antara.
Sementara, WNA datang ke Indonesia manfaatin celah. Mulai dari lemahnya pengawasan, penegakan hukum yang belum konsisten, sampe minimnya perlindungan bagi anak.
Kasus ini ga boleh berhenti di trending topic aja
Penyelidikan masih berjalan. Hingga saat ini belum ada penetapan tersangka yang diumumkan secara resmi.
Tapi yang pasti, anak-anak butuh perlindungan. Sekecil apapun, aksi kita sangat berarti.
⚠️ KONTAK DARURAT⚠️
Kalo kalian menuin ada tindak kejahatan yang mengancam anak-anak atau informasi apapun yang berkaitan dengan kasus ini, kalian bisa ikut bantu dengan melaporkannya ke:
Polri (Call Center Nasional) → 110
Jakarta Siaga (khusus wilayah DKI Jakarta) → 112
Kemen PPPA →
- Hotline SAPA: 129
- WhatsApp: 08111-129-129
KPAI →
- Telepon: (021) 319-01446 / 319-00659
- WhatsApp: 081110027727
LSM ECPAT Indonesia →
- Telepon: 021-794 3719
- WhatsApp khusus: +62811-9771-775
- Email: [email protected]
- Web: ecpatindonesia.org
LBH APIK Jakarta →
- WhatsApp Hotline: 081388822669
- Web: lbhapik.org
Feature Image Courtesy of Antara/Suwanti
Let uss know your thoughts!
