Karyawan Muda Prefer Berkembang Tanpa Embel-embel Jabatan?
Anak muda jaman sekarang lebih milih buat ga jadi bos di tempat kerja
Pernah denger temen lo bilang: “Daripada pusing jadi atasan tapi gaji ga seberapa, mending kerja sesuai job desk aja.”?
Sayangnya ini bukan quotes buat hook konten doang. Fenomena ini disebut sebagai “Conscious Unbossing”. Ini mungkin udah jadi ground shift pada cara karyawan muda mandang kesuksesan dalam karir mereka. Generasi muda di lingkup kerja mulai questioning: “Kenapa gue mesti jadi bos kalo cuma nambahin stres tapi gaji naiknya dikit doang?”
Apa itu fenomena Conscious Unbossing?
Bukan cuma opini pribadi apa lagi asbun, Conscious Unbossing adalah istilah trending workplace lexicon yang dipopulerkan melalui media, komunitas HR dan budaya kerja global belakangan ini (sekitar sejak pertengahan 2024–2025), per Johnson & Dugan.
Fenomena ini mulai banyak dijadiin objek yang rame direalisasiin lewat penelitian dan survei. Kayak pada survei dari perusahaan konsultan rekrutmen profesional, Robert Walter, yang berjudul: Conscious unbossing – 52% of Gen-Z professionals don’t want to be middle managers (2024).
Breakdown data
Survei Conscious Unbossing dari Robert Walter nge-breakdown:
-
- 52% Gen Z bilang mereka bener-bener ogah jadi manajer
- 72% Gen Z prefer posisi independent contributor ketimbang people manager
- 69% Gen Z nilai middle management itu terlalu high‑stress tapi low‑reward
- 63% karyawan mikir kalo senior lebih ngehargain manajemen tingkat menengah dibanding rekan kerja yang lebih muda
Topik yang banyak dihindarin orang: Uang vs Kesehatan Mental
Dulu → Naik jabatan = Naik status sosial dan gaji
Sekarang? → Banyak pekerja muda ngerasa itu bukan trade‑off yang worth “the price”:
Jabatan manajerial = stres tinggi → Reward-nya sering ga sebanding dengan kerjaan “palu gada” dan tanggung jawab yang makin bera
Belum lagi di beberapa kasus, deadline + konflik tim tanpa kejelasan kompensasi
“Gue bukan anti promosi, tapi kalo harganya jam tidur dan kesehatan mental, ga dulu,” kira-kira kayak gitu POV pekerja Gen Z secara garis besar.
Perspektif Gen Z soal tangga karier korporat, valid?
Dalam tulisannya Conscious Unbossing: Why Gen Z Is Steering Clear Of Middle Management yang dipublikasi Forbes, Dan Pontefract bilang, Gen Z tumbuh di era setelah pandemi: remote work, banyak pilihan karier, dan awareness soal burnout yang bikin mereka makin melek. Ini bikin mereka ga ngeliat posisi tinggi di kerjaan jadi satu-satunya jalan kesuksesan yang wajib ditempuh (cuma satu dari banyak pilihan).
Mayoritas responden di survei Robert Walter ngebuktiin kalo Gen Z lebih milih jadi expert yang jago dalam suatu/beberapa bidang daripada jadi atasan yang mesti handle banyak orang.
Kenapa Gen Z lebih milih ini?
Bukannya ga mau naik level, tapi:
- Mereka pengen kenaikan karier tanpa harus mengurus orang yang basically ga mau diurus
- Mereka pengen menggali skill lebih dari menggali hirarki
- Mereka pengen kerjaan yang meaningful dibanding sekedar status
Sebenernya kalo ditelusurin lebih jauh, di Indonesia fenomena ini ga cuma berkaitan soal meleknya Gen Z sama hal-hal yang mungkin kerap diabaikan generasi pendahulunya. Tapi merupakan respon terhadap kualitas job market yang jelek dan budaya kerja yang bikin banyak pekerja burnout dengan gaji ga seberapa.
Jeleknya job market sampe gaji yang kelewat becanda ternyata jadi penyebab
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) ngerilis laporan soal 14 juta pekerja di Indonesia diupah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK).
Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fisipol UGM, Dr. Hempri Suyatna, menilai kalo fenomena itu berdampak ke kesenjangan pasar kerja buat para fresh graduate.
Jadi, ga usah heran kalo jumlah orang yang nyari kerja di Indonesia lebih banyak dibanding jumlah lapangan pekerjaannya.
Dampak ke perusahaan
Sayangnya ga sedikit perusahaan yang tetap nerapin traditional career ladder. Padahal mereka terancam kehilangan talenta terbaik karena:
- Gen Z saat ini menolak sistem tradisional dan mereka punya power untuk mengubah sistem.
- Jika Gen Z enggan mengambil peran manajerial, leadership pipeline tradisional bisa terganggu. Artinya perusahaan punya risiko kekosongan pemimpin di masa depan.
- Survei Conscious Unbossing nunjukin 80% pimpinan HR ga PD sama pipeline leadership mereka, sebagian karena generasi muda ga tertarik ke peran manajemen tradisional.
Perusahaan harus mulai beradaptasi
- Mempertimbangkan flat structure ketimbang hierarki kaku
- Membangun dual career track (expert path vs manager path)
- Mengaitkan peran kepemimpinan dengan kontribusi nyata, bukan sekadar supervisi orang
Conclusion
Adanya fenomena Conscious Unbossing ini sebenernya ngarahin kita ke masalah yang lebih kompleks. Mulai dari chaos-nya sistem pengupahan para buruh, kondisi job market, sampe pergeseran career ladder di dunia profesional.
Ini bisa jadi era baru dan inspiring buat perusahaan dalam melakukan gebrakan supaya tetap relevan dan ga kehilangan talenta muda dalam kontribusi mengembangkan bisnis.
Kalo kalian mau ga ditunjuk jadi bos di tempat kerja?
