Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perjalanan CGI di Film Indonesia, Ini yang Perlu Lo Tau!

Pernah nggak sih lo bertanya-tanya ada apa di balik animasi ataupun efek-efek keren dalam film Indonesia maupun luar negeri?

Biasanya, efek-efek kayak gini paling kelihatan di film-film bertema sci-fi atau super hero, mulai dari adegan Multiverse-nya “Doctor Strange”, sampai film pahlawan fiksi tanah air ikonis “Gundala” atau – yang baru banget rilis – “Satria Dewa GatotKaca”.

Yup, apa lagi kalau bukan computer-generated imagery, alias CGI!

Gampangnya, CGI itu merupakan teknologi komputer yang dipakai untuk menambah efek tertentu dalam sebuah film maupun gambar bergerak lainnya. Adanya teknologi ini makin memungkinkan para filmmakers untuk menuangkan imajinasi visual terliarnya ke dalam layar yang kita tonton. 

Walaupun nggak mudah dan murah, special effect CGI dalam tayangan berguna untuk banyak hal. Misalnya; bikin wujud makhluk asing atau latar belakang yang nggak ada di dunia nyata, hingga memoles detail-detail seperti muka karakter, dan masih banyak lagi.

Perjalanan CGI di Film Indonesia, Ini yang Perlu Lo Tau!
via Tenor

Film Indonesia pertama yang pakai special effect

Kita tau seberapa canggihnya film-film zaman sekarang dengan visualnya yang makin megah, termasuk di film Indonesia. Sebelum ke sana, yuk kita bahas awal mula special effect di film zaman dulu!

Sebelum ada CGI, siapa sangka perfilman Tanah Air sudah memakai efek khusus, bahkan dari tahun 1930-an?

Tie Pat Kay Kawin” judulnya. Film hasil produksi Java Industrial Film tahun 1935 ini adalah salah satu koleksi film lokal tertua yang pakai special effect – seenggaknya itu yang tim USS Feed temukan.

Efek khusus bisa kita lihat di adegan pertarungan, perubahan wujud, sampai jurus-jurus sakti. Dalam salah satu adegannya, seekor babi kecil yang bakal disembelih, seketika berubah jadi siluman babi, lalu menghilang.

Teknik kuno ini dilakukan dengan cara merusak frame demi frame dengan bentuk gambar berbeda, konsepnya mirip dengan stop motion.

Awal CGI Indonesia dan elang-elangan layar kaca

Perkembangan CGI di Indonesia memang belum secanggih teknologi film Hollywood. Maklum, biaya teknologinya juga nggak murah.

Tapi, ini nggak membuat para pembuat film tanah air kehilangan kreativitasnya. Tonggak awal tumbuhnya industri efek visual menggunakan CGI di Indonesia salah satunya ditandai oleh film “Saur Sepuh: Satria Madangkara”. 

Film karya Imam Tantowi pada tahun 1987 itu menampilkan tokoh Brama Kumbara yang menaiki burung Rajawali raksasa. Menurut Arif Sulistiyono dalam artikel ilmiahnya, efek itu dibuat dengan teknologi animatonik, sehingga sayap dan bagian tubuh lainnya bisa bergerak, walau masih terlihat kaku.

Perjalanan CGI di Film Indonesia, Ini yang Perlu Lo Tau!
“Saur Sepuh: Satria Madangkara” via YouTube Semesta Film

Fast forward ke tahun 2000-an, efek serupa masih bisa lo temuin di layar kaca.

Pasti lo nggak asing sama tayangan-tayangan tv dengan animasinya yang imajinatif, semacam sosok elang-elangan atau adegan sinetron azab yang di luar nalar.

Walaupun sering jadi bahan ceng-cengan, upaya para kreator dalam membuat efek visual ini perlu kita apresiasi kesuksesannya. Buktinya, penggunaan CGI di tayangan layar kaca terus bertahan sampai sekarang.

Kembalinya Raden Kian Santang” salah satunya. Sinetron drama kolosal ini sudah tayang sejak tahun 2012 silam, dan sampai sekarang masih menerapkan teknologi CGI untuk efek visualnya.

Perjalanan CGI di Film Indonesia, Ini yang Perlu Lo Tau!
MNCTV

Film Indonesia patut diapresiasi

Perfilman Indonesia pastinya punya potensi untuk menghasilkan visual yang ciamik lewat CGI. Bukan cuma buat adegan laga seperti yanga ada di “Garuda Superhero” (2014) maupun “Foxtrot Six” (2019), film genre drama pun nggak absen untuk memakai teknologi ini.

Sebut saja “Rudy Habibie” (2019), teknologi CGI berhasil menyulap Reza Rahadian jadi B.J. Habibie muda. Atau di film “Bumi Manusia”, latar belakang perkotaan dibuat serealistis mungkin pakai blue screen.

ahas tentang efek visual, film super hero tanah air nggak boleh terlewat. Karya Joko Anwar “Gundala” (2019) dan Angga Dwimas Sasongko “Wiro Sableng” (2018) contohnya.

Melansir CNN, film-film tersebut dapat banyak kritikan karena CGI yang masih terbilang ‘kasar’. Tapi kembali lagi, tantangannya ada di masalah pembiayaan yang besar.

Bulan Juni tahun 2022 ini, satu lagi tayangan pahlawan super lahir dari industri perfilman Indonesia; “Satria Dewa GatotKaca” karya Hanung Bramantyo yang diperkaya dengan teknologi CGI. Pertarungan seru dengan visual yang apik pun tersaji di film tersebut. 

Bagaimanapun, karya-karya ini berhasil membuktikan kemajuan industri perfilman tanah air yang kian hari makin canggih. 

What are your thoughts? Let us know!