Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

40% sampai 70% Perempuan akan Kembali ke Toxic Relationship dan Tetap Bertahan?

Banyak orang yang terjebak toxic relationship

Banyak orang yang terjebak dalam toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat.

Faktanya adalah, tidak sedikit orang yang tetap bertahan dengan hubungan yang sudah terbukti tidak sehat tersebut.

Di samping itu, tidak sedikit juga orang yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Jenis-jenis kekerasan dalam hubungan

Bentuk nyatanya adalah terdapat kekerasan yang diterima oleh salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak.

Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai bagian dari toxic relationship.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Komnas Perempuan pada CATAHU 2020 Komnas Perempuan: Lembar Fakta dan Poin Kunci, setidaknya ada 1.309 kasus kekerasan yang terjadi dalam hubungan pasangan kekasih.

Berdasarkan jurnal yang berjudul Meadows oleh Sugerman, kekerasan yang dimaksudkan dalam data tersebut adalah yang bersifat ancaman dan siksaan yang diperbuat oleh suatu individu terhadap pasangannya.

Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Beberapa jenis kekerasan yang termasuk dalam Undang-Undang tersebut antara lain, Kekerasan Seksual, Kekerasan Finansial, Kekerasan Terbuka (Overt), Kekerasan Tertutup (Covert).

Walaupun masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep kekerasan yang terjadi dalam suatu hubungan atau dalam rumah tangga, namun kekerasan tidak hanya dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan fisik.

fighting gifs Page 5 | WiffleGif
via WiffleGif

Banyak korban yang lebih pilih bertahan

Mirisnya lagi, banyak korban dari toxic relationship khususnya yang berupa Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), memilih untuk tidak mengakhiri hubungan mereka.

Dalam sebuah jurnal yang dilakukan oleh Ben-Porat dan Itzhaky, Davhana-Maselesele, Horwitz dan Skiff, menyatakan bahwa banyak korban dari hubungan yang tidak sehat tetap mempertahankan hubungan asmaranya.

Dalam presentasenya, ada sebanyak 40% hingga 70% perempuan yang menjadi korban dalam toxic relationship, tetap kembali ke pasangan mereka dan mempertahankan hubungan tesebut.

Hal ini berlangsung dalam kurun waktu tertentu hingga sang korban benar-benar merasa “muak”.

Perselingkuhan merupakan kekerasan dalam hubungan?

Perselingkuhan termasuk dari salah satu bentuk kekerasan dalam sebuah hubungan.

Hal tersebut akan menjadi semakin serius jika perselingkuhan dilakukan berulang kali.

Mengacu pada Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, perselingkuhan termasuk ke dalam kekerasan tertutup (covert).

Contoh dari kekerasan tertutup atau covert adalah kekerasan yang menyerang psikis atau emosional.

Maka, apabila ada salah satu pihak yang dikhianati dalam perselingkuhan, pihak tersebut merupakan korban kekerasan dalam toxic relationship.

fight couple discovered by SexyAngel on We Heart It
via We Heart It

Stockholm Syndrome adalah alasannya?

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apakah fakta tersebut berkaitan dengan Stockholm Syndrome?

Jawabannya adalah belum tentu. Karena, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang korban tetap bertahan.

Bedasarkan keterangan dari Tri Kurniati Ambarini M.Psi, menjelaskan bahwa Stockholm Syndrome merupkan respon psikologis yang berkaitan dengan situasi penahanan atau pelecehan.

Stockholm Syndrome sendiri dapat diartikan sebagai respon yang menjadi bagian dari coping mechanism saat seseorang mengalami trauma.

What are your thoughts? Let uss know!

Image via Unsplash