Satu Hari yang Mengubah Segalanya
Puluhan tahun silam, ribuan warga Palestina beramai-ramai turun ke jalan bukan karena provokasi, tapi karena Israel mengumumkan perampasan 2.000 hektar tanah di Galilea untuk “kepentingan negara.”
Tepat di tanggal 30 Maret 1976, enam warga sipil tak bersenjata ditembak mati. Ratusan luka-luka. Ratusan lainnya ditangkap.
Meski sudah 50 tahun berlalu, hingga kini warga Palestina masih terjebak dalam penderitaan serta luka yang sama. Dan seluruh dunia tidak boleh berhenti untuk tetap bersuara dan memperjuangkan soal ini.
Lebih dari Sekadar Tanah
Perampasan tanah 2.000 hektar ini merupakan bagian dari kebijakan Israel untuk melakukan Yudaisasi tanah Galilea setelah berdirinya Negara Israel, per Al Jazeera.
Tanah yang dirampas tersebut setara dengan 3.000 lapangan sepak bola.
Sejak saat itulah 30 Maret diabadikan sebagai Yom al-Ard atau Land Day Palestina.
Makna Land Day
Dulu, Land Day adalah tentang hak pulang ke tanah yang dirampas sejak 1948.
Kini, maknanya jauh lebih pedih.
Menurut berbagai estimasi, antara 52–58% wilayah Gaza kini berada di bawah kontrol langsung militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF).
Israel menjadikan warga Palestina “tahanan” pada sisa kurang dari separuh wilayah mereka sendiri.
Yellow Line: Perbatasan Baru yang Tak Pernah Disepakati
Tak hanya itu, di Palestina bahkan ada garis militer yang seenaknya dibuat oleh Israel di dalam wilayah Gaza selama serangan genosida berlangsung. Garis ini tak tercantum dalam kesepakatan resmi mana pun.
Yellow line membentang dari utara ke selatan Gaza, dengan kedalaman 2-7 km, ditandai penghalang beton kuning. Di balik garis itu: zona tempur. Rumah-rumah, kebun-kebun, sejarah keluarga. Dan semua tak bisa dijangkau.
Ini bukan sekadar pembatasan militer. Ini adalah perampasan tanah dalam bentuk baru: tanpa dekrit, tanpa kompensasi, dan penuh pertumpahan darah.
Land Day 2026 bukan peringatan saja. Ini potret kejahatan yang terus berulang.
Cara Palestina Peringati Land Day
Dilansir Al Jazeera, setiap tanggal 30 Maret, warga Palestina turun ke jalan.
Demonstrasi. Vigil. Menanam pohon zaitun, jadi bentuk pernyataan bahwa ikatan mereka dengan tanah Palestina nyata dan tidak bisa dicabut paksa.
Aksi peringatan juga digelar di berbagai kota di seluruh dunia untuk menandai peringatan 50 tahun Land Day.
Tapi hampir setiap tahun, protes damai ini dibalas dengan kekerasan oleh aparat Israel.
Protes dilaksanakan. Peluru ditembakkan.
Rangkuman Sebagian Kecil Dosa Israel yang Tak Terhitung
Protes tanpa henti, gencatan senjata ditandatangani, namun serangan tetap digencarkan.
Gencatan senjata Oktober 2025 → Pemerintah Palestina di Gaza laporkan Israel melakukan 1.244 pelanggaran selama fase pertama gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, per Anadolu Agency.
Januari 2026 → total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.027 orang: termasuk 18.592 anak-anak di Gaza, 171.651 orang terluka, dilansir Palestine Chronicle.
Bukan hanya Gaza. Di Tepi Barat, perampasan tanah secara paksa pun terus berjalan.
8 Februari 2026 → Kabinet Keamanan Israel menyetujui serangkaian langkah untuk memperluas kekuasaan di Tepi Barat, termasuk mempermudah penjualan tanah Palestina ke pemukim Israel.
Jumlah serangan pemukim ke warga Palestina terus naik: 852 serangan di 2022, 1.291 di 2023, 1.449 di 2024, dan 1.828 di 2025 — rata-rata 5 serangan per hari.
25 Maret 2026 → Serangan menghantam area dekat kamp tenda pengungsi di Deir el-Balah, Gaza tengah. Membakar sejumlah tenda.
29 Maret 2026 → 6 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Khan Younis, termasuk tiga anggota kepolisian.
De Facto Annexation
Sejumlah negara dan kelompok hak asasi internasional menyebutnya sebagai de facto annexation atau pencaplokan tanah yang terjadi dalam praktik, meski tidak diumumkan secara resmi atau legal.
Tapi, sejauh ini belum ada konsekuensi nyata atas perbuatan Israel.
Belum ada resolusi DK PBB yang mengikat karena selalu diveto oleh Amerika Serikat (AS).
Belum ada mekanisme hukum internasional yang berhasil hentikan aktivitas permukiman Israel di Tepi Barat.
50 tahun berlalu, sayangnya tak ada perubahan signifikan yang bisa bebaskan rakyat Palestina dari penderitaan mereka.
Let uss know your thoughts!
FREE PALESTINE!
Feature Image Courtesy of Unsplash/Ahmed Abu Hameeda
