Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“Citayam Fashion Week” dan Isu Ruang Publik

Apa itu “Citayam Fashion Week?”

“Citayam Fashion Week” jadi diskusi publik beberapa waktu belakangan.

Pemicunya nggak lain dan nggak bukan adalah rangkaian konten yang bersirkulasi di TikTok beberapa waktu belakangan.

Saking viralnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan sempat mengungkit fenomena ini.

“Ruang ketiga yang mengundang interaksi warga, tidak hanya dari Jakarta saja, bahkan dari Citayam,” kata Anies dikutip melalui akun resmi Instagram @aniesbaswedan, Minggu (3/7/2022).

Lantas, apa sih itu “Citayam Fashion Week?” Here’s what you need to know to get you up to speed!

Baca juga: Harga Rokok Makin Mahal, Karena Menkeu Tambah Tarif Cukai Tembakau?

“Citayam Fashion Week”

Citayam Fashion Week mengacu pada fenomena kerumunan remaja yang nongkrong di kawasan Stasiun Sudirman. Uniknya, meski bertitik temu di Jakarta, para remaja tersebut justru datang dari wilayah lain seperti Citayam, Bojong Gede hingga Bekasi.

Mereka hadir di kawasan tersebut dengan gaya outfit yang khas dan cukup mencolok; misalnya kemeja flannel, celana dan baju yang oversize, topi dan sneakers.

Uniknya lagi, tak sedikit dari mereka yang mencari duit sendiri untuk membeli outfit tersebut supaya tidak merepotkan orang tua.

Fenomena ini pun rutin didokumentasikan lewat para kreator konten yang ikut berbaur di keramaian, mendokumentasikan para remaja tersebut.

Baca juga: Bumilangit Rilis Teaser Perdana “Sri Asih”, Segera Tayang Tahun 2022

Isu ruang publik

Kerumunan di kawasan Sudirman tersebut pun membawa isu ruang publik naik ke permukaan.

Sejumlah pro dan kontra pun muncul. Para remaja yang datang dari kelompok ekonomi kurang mampu tersebut dianggap bertolak belakang dengan citra elit yang sudah lebih dulu melekat dengan kawasan Sudirman.

Padahal, kawasan tersebut adalah ruang publik. Semua orang punya hak untuk beraktivitas di Sudirman meski tidak berpenghasilan tinggi.

Hal ini pun bisa jadi cerminan soal tata kota. Menurut Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, para remaja tersebut mungkin datang jauh-jauh karena keterbatasan fasilitas publik di daerah asal. Selain itu, ada pula keinginan mencari hiburan baru dan motivasi untuk eksis layaknya anak-anak muda pada umumnya.

Karena itu, ia menganjurkan netizen untuk belajar empati.

“Empati kepada mereka yang dahaga ruang publik dan dahaga hiburan dengan suasana kosmopolit saya kira itu penting ya,” sambungnya.