Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demo Masak, Megawati Bicara Soal Gizi: ‘Anak-anak jangan diberi chiki terus’

Megawati dan pernyataan tentang minyak goreng

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengklarrifikasi pernyataannya tentang kelangkaan minyak goreng yang memantik polemik di masyarakat beberapa waktu lalu.

Tanggal 18 Maret lalu, di tengah langkanya bahan pokok itu, ia mempertanyakan orang-orang yang mengantre minyak goreng untuk memasak.

Saya itu sampai mikir, apakah ibu-ibu itu setiap hari urusannya hanya menggoreng? Sampai begitu rebutannya? Apa tidak ada cara merebus, mengukus, apa tidak ada? Itu menu Indonesia lho,” ujarnya yang bikin masyarakat geram.

Menurutnya, masyarakat perlu mengubah pola pikir supaya bisa keluar dari ketergantungan akan minyak goreng.

Memastikan perut rakyat kenyang adalah prinsip

Lewat acara demo masaknya, di samping pro dan kontra yang terjadi, Megawati menyampaikan pesannya tentang gizi masyarakat.

Presiden RI ke-5 ini mengawali klarifikasinya dengan percakapan tentang politik bersama ayahnya, Soekarno. Menurutnya, ia belajar dari ayahnya untuk memastikan perut rakyat kenyang sebagai sebuah prinsip.

Agar rakyat kenyang, penting memastikan asupan yang sehat bagi rakyat. Memberikan sosialisasi tentang pentingnya mengonsumsi makanan bergizi juga jadi kewajiban pemerintah dan elite politik.

Demo Masak, Megawati Bicara Soal Gizi: 'Anak-anak jangan diberi chiki terus'
via Giphy

‘Anak-anak ini jangan diberi chiki-chiki terus’

Jadi anak-anak ini jangan diberi chiki-chiki terus. Pasti kenyang. Tetapi pertanyaannya adalah menjadi sehat apa tidak? Nah seperti inilah yang ingin sebetulnya saya sharing,” ujar Megawati di demo masaknya.

Topik ini ia angkat dengan pembahasan tentang masalah stunting pada anak.

Jadi saya lalu prihatinnya makin menjadi-jadi, ternyata stunting itu adalah masalah asupan. Asupan yang bukan hanya sembarangan, asupan yang harus diketahui masyarakat,” lanjutnya.

Ia berharap, agar ada manfaat dari perdebatan soal harga minyak goreng ke depannya. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menjadikan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, jadi generasi yang lebih sehat, lebih pintar, dan cerdas lahir batin.

Your thoughts? Let us know!