Bukan terbabat tuntas, kasus “Tiga Anak Saya Diperkosa” malah terabaikan

Kasus pencabulan dari artikel “Tiga Anak Saya Diperkosa” yang tayang di laman Project Multatuli meledak di dunia maya. Artikel itu berisi investigasi tentang pemerkosaan tiga anak di bawah 10 tahun oleh ayahnya sendiri.

Kasus yang terjadi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan dari tahun 2019 silam itu bukannya diusut lebih dalam, malah ditutup oleh kepolisian. Alasannya, laporan tersebut tak punya bukti kuat. Basi, bukan?

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar pun tak tinggal diam, mereka meminta Polri untuk melanjutkan kasus pencabulan tersebut.

LBH Makassar bantah alasan Polres Luwu Timur menutup kasus

LBH Makassar Minta Polri Buka Lagi Kasus "Tiga Anak Saya Diperkosa", #PercumaLaporPolisi Jadi Bentuk Kecaman Warganet
via Tenor

LBH Makassar selaku pendamping korban pun menilai penutupan kasus “Tiga Anak Saya Diperkosa” ini adalah hal yang prematur.

Selain itu, pihak mereka pun membantah alasan Polres Luwu Timur menutup kasus tersebut. Padahal, ada bukti luka lecet dan tanda-tanda kekerasan pada dubr dan vagina ketiga anak yang jadi korban.

Lebih jauh lagi, bahkan LBH Makassar sudah memberikan sejumlah foto dan video terkait luka di alat vital korban pencabulan.

Namun, bukan ini yang ada di laporan dari pihak kepolisian. Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar Resky Pratiwi menjelaskan bahwa polisi tak menindaklanjuti bukti-bukti dari pihaknya.

Kami menyurat ke Mabes Polri supaya bisa mengevaluasi dan membuka kembali kasus ini.” ujar Resky kepada Detik.

Warganet gaungkan tagar #PercumaLaporPolisi

Sebagai dukungan untuk korban, beserta ibu korban, dan tentunya juga bentuk kemarahan netizen, hashtag #PercumaLaporPolisi pun trending di Twitter.

Pasalnya, beberapa waktu setelah artikel itu tayang, Project Multatulli pun kena serangan ‘misterius’ sehingga situs tak bisa kita akses.

Baca juga: