Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tren Lato-lato Makan Korban, Mata Bocah Asal Kalbar Kena Pecahan Bola

Mainan Jadul Lato-lato yang Kembali Ramai dan Disukai

Lato-lato menjadi mainan jadul (jaman dulu) yang kini kembali diminati oleh masyarakat Indonesia.

Tak hanya di kalangan anak-anak, mainan satu ini kembali digemari untuk dimainkan oleh berbagai macam kalangan.

Di sejumlah daerah, mainan yang sudah ada sejak dulu ini banyak dimainkan on daily basis.

Mata dari Bocah Asal Kalimantan Harus Dioperasi

Sayangnya, hal tersebut tak dapat menutupi kenyataan bahwa mainan lato-lato bukan mainan yang 100% aman untuk dimainkan.

Terutama untuk dimainkan oleh anak-anak di bawah umur tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.

Pasalnya, seorang bocah di Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami luka berat akibat bermain lato-lato.

Bocah berinisial AN ini diketahui mengalami luka berat akibat bola pada mainan tersebut pecah tiba-tiba saat dimainkan.

Nahas, mata dari AN terkena serpihan pecahan yang mengakibatkan dirinya harus menjalani operasi di bagian mata.

Raya Marijan selaku Kadis Kesehatan Kubu Raya Marijan mennjelaskan, bola mata AN yang terluka akibat kena pecahan bola membuatnya harus menerima tiga jahitan.

“Jadi ada perlukan di bola matanya sehingga harus dioperasi dan dijahit tiga jahitan,” kata Raya Marijan dilansir CNN Indonesia, Senin, 9 Januari 2023.

Kronologi Kejadian Memilukan Tersebut

Berita mengenai AN ini telah lebih dulu viral di berbagai platform media sosial.

Kronologi terjadinya peristiwa tersebut tepatnya di Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Selasa, 27 Desember 2022.

Awalnya AN tengah asyik bermain lato-lato bersama teman-temannya di rumah salah seorang teman.

“Dari orang tuanya bilang dia main lato-lato di rumah temannya tiba-tiba pulang matanya sudah merah,” kata Marijan.

Sepulangnya dari rumah kawannya tersebut, mata AN dalam keadaan memerah.

Setelah itu, orang tuanya berinisiatif membawa AN ke RSUD Soedarso Pontianak.

Let uss know your thoughts!

Image: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya