Who, What, Where & When

Pada Minggu (11/02/2024), akun YouTube Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) merilis dokumenter berjudul “Dirty Vote.” 

Kemunculan dokumenter ini menjadi sorotan masyarakat Indonesia, dengan jumlah viewers mencapai lebih dari 3 juta orang sampai pada hari ini, Senin (12/02/2024). 

Melansir YouTube PSHK, Dirty Vote dibintangi oleh tiga ahli hukum tata negara, yakni Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari. Mereka mengungkap soal instrumen kekuasaan yang telah digunakan untuk memenangkan pemilu dan merusak tatanan demokrasi. 

 

Profil 3 Narasumber Dokumenter “Dirty Vote”

Bivitri Susanti: Ia adalah pengajar di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera. Bivitri memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1999, pun turut serta mendirikan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). Bivitri kemudian melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar Master of Laws di Universitas Warwick, Inggris, pada 2002. 

Zainal Arifin Mochtar: Ia merupakan dosen Hukum Tata Negara di Universitas Gajah Mada. Ia menyelesaikan gelar sarjana Ilmu Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2003, pun  melanjutkan jenjang S2 di Universitas Northwestern, Amerika Serikat dan meraih gelar Master of Law pada 2006.

Feri Amsari: Ia merupakan pengajar di Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ia meraih gelar sarjana dan magister di Universitas Andalas, pun sempat menempuh pendidikan magister perbandingan hukum Amerika dan Asia di William and Mary Law School, Virginia.

Kata Sutradara Soal Perilisan “Dirty Vote”

Sutradara “Dirty Vote” Dandhy Dwi Laksono mengungkapkan alasannya merilis dokumenter tersebut. Ia berharap dokumenter ini dapat menjadi tontonan reflektif di masa tenang pemilu, pun bisa mengedukasi publik.

“Diharapkan tiga hari yang krusial menuju hari pemilihan, film ini akan mengedukasi publik serta banyak ruang dan forum diskusi yang digelar,” kata Dandhy pada Minggu (11/02/2024). 

Daftar Film Garapan Dandhy Dwi Laksono

  • Dirty Vote 
  • Sexy Killers
  • Pulau Plastik
  • SAMIN vs SEMEN

Why & How

Kemunculan dokumenter ini menuai respons dari berbagai pihak, yakni Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, tim pemenangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, tim pemenangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, pun tim pemenangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

GIF by alexa kerr

(via Giphy)

Respons Bawaslu

“Teman-teman jika mengkritisi Bawaslu silakan saja, tidak ada masalah bagi Bawaslu selama kami melakukan tugas dan fungsi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

  •  Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja menanggapi pertanyaan wartawan soal dokumenter “Dirty Vote” pada Minggu (11/02/2024). 

Respons Tim Pemenangan Anies-Cak Imin

“Film dokumenter ini memberikan pendidikan kepada masyarakat bagaimana politisi kotor telah mempermainkan publik hanya untuk kepentingan golongan dan kelompok mereka.”

  • Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional (Timnas) AMIN, Iwan Tarigan.

Respons Tim Pemenangan Prabowo-Gibran

“Sebagian besar yang disampaikan film tersebut adalah sesuatu yang bernada fitnah, narasi kebencian yang sangat asumtif, dan sangat tidak ilmiah. Saya mempertanyakan kapasitas tokoh-tokoh yang ada di film tersebut dan saya kok merasa sepertinya ada tendensi, keinginan untuk mendegradasi pemilu ini dengan narasi yang sangat tidak berdasar.”

  • Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Habiburokhman.

Respons Tim Pemenangan Ganjar-Mahfud

“Apa yang ditulis atau dibuat dalam film tersebut itu tidak ada yang baru sama sekali. Dia mengingatkan kita bahwa pelanggaran dan potensi pelanggaran itu sangat masif terjadi di Indonesia.”

  • Deputi Bidang Hukum Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis.

Vote Now Election 2020 GIF by Hannah Bronfman

(via Giphy)

What are your thoughts? Let us know in the comment!

(Photo courtesy by Instagram/@dandhy_laksono)