Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gara-Gara Perang Rusia, Singkong Bakal Laris Manis?

Kementerian Pertanian: perang Rusoa untungkan komoditas singkong

Masih gara-gara konflik perang antara Rusia dan Ukraina, hal ini sepertinya malah membawa keuntungan bagi komoditas singkong hingga sagu.

Hal ini pun diakui oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Menurut mereka, hal ini bisa terjadi karena naiknya harga gandum di pasar internasional.

Kalau saya lihat ini berkah, karena harga gandum dalam negeri (ikut) naik, jadi kesempatan untuk singkong, sagu masuk ke pasar, jadi diminati,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi, melansir CNN.

Gara-Gara Perang Rusia, Singkong Bakal Laris Manis?
via Giphy

Berkah bagi petani lokal

Suwandi mengakui, Indonesia mengimpor sekitar tiga juta ton gandum dari Ukraina dalam beberapa bulan terakhir. Jadi, banyak perusahaan yang bergantung dengan gandum sebagai bahan baku produksinya sehingga beban operasional mereka membengkak.

Bagaimanapun, kenaikan harga ini (termasuk pupuk komersial) justru membawa berkah bagi para petani. Hal ini membuat petani sadar untuk menggunakan pupuk dengan bahan ramah lingkungan.

Jadi untuk pupuk komersial ini bukan membawa musibah, ini membawa berkah bagi petani. Petani jadi sadar menggunakan yang alami dan ramah lingkungan buatan sendiri,” ujar Suwandi.

Gara-Gara Perang Rusia, Singkong Bakal Laris Manis?
via Giphy

Singkong laris manis

Di masa naiknya harga gandum gara-gara perang Rusia Ukraina, ekspor singkong melonjak. Menurut Suwandi, ekspor singkong dan produk turunannya meningkat hingga tiga kali lipat.

Ia memastikan, PDB sektor pertanian terus tumbuh positif sejak awal pandemi hingga saat ini. Ekspor sektor pangan pun terus meningkat sejak 2020 silam.

Ekspor sektor pertanian total naik tinggi. Contoh ekspor 2020 ekspor pertanian total sekitar Rp450 triliun, itu naik 15 persen lebih dibanding tahun sebelumnya. 2021 ekspor naik Rp625 triliun, naiknya 38 persen, ini tanda baik. Di 2022 juga ekspor produk pertanian naik yang didominasi sektor perkebunan,” ujar Suwandi.

What are your thoughts? Let us know!

(Image: via Unsplash)