Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mental Gen Z Lebih “Cengeng,” Emang Bener?

Gen Z dan gangguan mental

Pernah nggak sih kalian denger kalau Gen Z disebut-sebut sebagai generasi yang cengeng, manja, dikit-dikit mental health ini mental health itu.

Sebuah penelitian berjudul “Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS)” menemukan bahwa 1 dari 20 remaja di Indonesia terdiagnosis punya gangguan mental.

Kasus bunuh diri pun cukup tinggi. Menurut data dari laman resmi Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia (INASP), jumlah kasus yang resmi tercatat pada 2020 ada 670 kasus, belum termasuk yang tak dilaporkan.

Berbagai data pun menunjukkan kalau orang-orang dari generasi ini cenderung punya angka depresi, kecemasan, dan masalah mental lainnya yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.

Mental Gen Z Lebih “Cengeng,” Emang Bener?
via Tenor

Generasi yang lebih “melek” mental health?

Ngomongin soal remaja dan Gen Z, Annie E Casey Foundation (AECF)  menyebut kalau generasi ini memang lebih “melek” soal berbagai isu, di antaranya: kesehatan, kesehatan mental, pendidikan, kebebasan finansial, keterlibatan sosial, kesetaraan, dan lingkungan.

Nggak cuma itu, walau terdengar cliche, kita nggak bisa nolak fakta bahwa teknologi berperan besar dalam hal ini. 

Masifnya efek internet dan media sosial jadi salah satu faktor yang bikin generasi ini makin terpapar ke berbagai isu yang ada di dunia.

Exposure seperti ini artinya mereka bisa mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda dari seluruh penjuru dunia. Inilah kenapa generasi ini bisa lebih “open-minded” akan kondisi orang yang bermacam-macam.

Mental Gen Z Lebih “Cengeng,” Emang Bener?
via Tenor

Terus, kenapa sering disebut “cengeng”?

Karena tingginya kesadaran tadi, dibandingkan generasi sebelumnya Gen Z jadi lebih terbuka untuk mencari pertolongan profesional ke psikolog maupun ke psikiater, menurut AECF. Untungnya, bantuan kesehatan mental sekarang makin gampang diakses.

Tumbuh dewasa di dunia yang hyper-connected seperti ini justru bisa menumbuhkan rasa terisolasi dan kesepian. Standar-standar di media sosial, rasa takut ketinggalan tren (FOMO), berita-berita buruk di dunia terus menyerang tentunya terus jadi teror bagi generasi ini.

Faktanya, banyak hal yang bikin Generasi Z makin tertatar, mulai dari kondisi politik, isu lingkungan yang makin parah, sampai keadaan ekonomi yang makin jomplang.

Mental Gen Z Lebih “Cengeng,” Emang Bener?
via Tenor

Dulu, isu serupa mungkin juga terjadi. Tapi di zaman ini, ada beberapa faktor yang bikin tantangannya berbeda dan makin berat.

Misalnya, pandemi. Munculnya Covid-19 membuat orang-orang makin terisolasi, dan belum lagi mereka yang harus kehilangan keluarga dan kerabatnya karena pandemi ini.

Nggak cuma itu, ekonomi jadi salah satu masalah terbesar yang Gen Z harus hadapi. Menurut The Conversation, inflasi punya pengaruh besar, khususnya buat mereka dengan ekonomi menengah ke bawah.

Mereka yang baru memulai kariernya cenderung harus menyisihkan lebih banyak budget untuk makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya. 

Selanjutnya, isu lingkungan dan iklim jadi salah satu yang bikin generasi ini makin mumet. Generasi ini makin terekspos ke kenyataan bahwa perubahan iklim dan kerusakan alam yang makin parah. Yale Environment 360 menyebut, perubahan iklim merupakan beban emosi yang berat.

Dengan bejibun masalah itu, wajar dong kalau anak-anak Gen Z makin aktif meminta pertolongan profesional untuk kesehatan mental mereka?

What are your thoughts? Let us know!