K-pop: semangat positif dan sense of belonging

Beberapa waktu lalu, fanbase K-pop yang terdiri dari ARMY (BTS), NCTZEN (NCT) dan WAYZENNI (WayV) curi sorotan publik karena menggalang dana hingga ratusan juta rupiah dalam 2 hari untuk korban tragedi Kanjuruhan.

Ini bukan kali pertama fanbase K-pop melakukan hal serupa. Sebelumnya mereka juga sempat menanam 9 ribu mangroove untuk untuk Indonesia.

Lantas, apa sih yang bikin komunitas fanbase K-pop bisa kompak dalam gerakan positif?

https://www.instagram.com/p/CjVLyamLynB/?hl=en

Baca juga: Ledek Teman Karena Belum Nikah, Pria di Tana Toraja Dibacok

Kenapa fanbase K-pop bisa sekompak itu?

Korean wave, yang disebut juga sebagai Hallyu, mulai mencuri sorotan global sejak lebih dari 1 dekade terakhir.

Dalam kurun waktu tersebut, kehadiran grup-grup idola dari Korea Selatan tersebut menghadirkan lebih dari sekadar lagu-lagu yang catchy atau koreografi yang lincah yang seru. Mereka semangat multicultural positivity yang diamini para penggemarnya.

Para idol K-pop tentunya bukan satu-satunya yang menyuarakan semangat positif. Namun mereka hadir lebih menonjol berkat kehadirannya yang begitu “aksesibel” berkat sosial media, juga kesempatan interaktif seperti fansign, livestreams dan gelaran meetup.

“Dalam perspektif psikologi, kita bisa mencapai kesejahteraan ketika kita bisa memuaskan kebutuhan dasar kita,” jelas Psikolog Derek Laffan, dikutip dari Mashable.

“Para idola K-pop dan K-pop secara keseluruhan bisa memenuhi kebutuhan tersebut.”

Baca juga: Trauma Healing Khusus Penyintas Tragedi Kanjuruhan

Solidaritas berkat sense of belonging

Semangat positif nggak cuma muncul berkat interaksi positif antara para idola dengan para fans.

Laffan menyebut, identifikasi diri sebagai penggemar K-pop juga bisa membentuk sense of identity dan sense of belonging. Tak jarang yang akhirnya berujung pada gerakan solidaritas positif untuk kepetingan publik.

Ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang yang memiliki tingkat keterikatan dengan idola yang sama, mereka bisa mengekspresikan rasa cinta yang sama dan menunjukkan rasa sayang tanpa takut dihakimi.

“Hal ini memberikan validasi dan koneksi sosial kuat yang mereka mungkin tidak dapatkan di tempat lain,” jelas Laffan.

“Secara umum, hal ini sangat penting untuk kesehatan mental yang positif.”

Your thoughts? Let us know!