Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Christine Hakim: Aktris, Aktivis, hingga Pembawa Kabar Petaka di “The Last of Us”

Ada Indonesia di Last of Us!

Scene pembuka serial “The Last of Us” (2023) episode 2 bikin netizen Indonesia nunjuk layar kayak meme Leonardo DiCaprio dari film “Once Upon A Time In Hollywood” (2019).

Siapa yang sangka ternyata infeksi fungus yang ngancurin dunia ternyata dimulai dari Jakarta. Fakta ini sudah diketahui para gamers karena seri ini adalah adaptasi dari game yang rilis tahun 2013. Justru, yang nggak diketahui sama semuanya adalah betapa menegangkan dan putus asanya scene tersebut kalau dibawakan oleh Christine Hakim.

GIF version | Pointing Rick Dalton | Know Your Meme

Siapa sih Christine Hakim?

Nama : Herliana Christine Natalia Hakim

Tanggal Lahir : 25 Desember 1956 (67 Tahun)

Pekerjaan : Aktris, Aktivis, Produser

Tahun Aktif : 1973 – Sekarang (50 Tahun)

Dikenal dengan : Cinta Pertama (1973), Badai Pasti Berlalu (1977), Tjoet Nja’ Dhien (1988), Eat Pray Love (2010), dan masih banyak lagi.

Badai Pasti Berlalu (1977)

Prestasi Di Kancah Sinema

Dalam kurun waktu 50 tahun, sepak terjang Christine Hakim bisa dibilang sangat-sangat produktif. Bahkan di tahun 1974, yang mana adalah tahun keduanya aktif, ada 5 film yang dibintanginya.

Sejauh ini, dia sudah main di 48 film, 2 Sinetron, 1 serial TV, 1 serial web, dapet 29 nominasi penghargaan, dan dapet 17 penghargaan dari berbagai acara termasuk Piala Citra dan penghargaan internasional.

Kehidupan Sebagai Produser dan Aktivis

Selain sebagai aktris, dia aktif sebagai produser film dan aktivis. Dia bahkan sempat jadi juri di festival bergengsi Cannes Film Festival di tahun 2002. 

Sebagai seorang produser juga, dia telah membuat sebuah film bertajuk Daun Di Atas Bantal (1998) dengan menggaet sutradara Garin Nugroho. Selain itu, dia juga memproduseri sebuah film berjudul Pasir Berbisik (2001) yang dibintangi dirinya sendiri, Dian Sastro dan Slamet Rahardjo.

Sedangkan buat aktivisme, dia mendirikan Christine Hakim Foundation setelah bencana Tsunami Aceh melanda. Di tahun 2008, dia menjadi duta jasa-jasa baik Indonesia untuk UNESCO. Sampai saat ini, dia aktik menyuarakan isu soal pendidikan publik tentang autisme.

Your thoughts? Let us know!